DEMOKRASI DIGITAL
TEORI sosial dan politik yang umum dipelajari hari ini sebagian besar merupakan
warisan pemikiran dari revolusi industri yang berlangsung sekitar dua abad
lalu. Jarang disadari bahwa gelombang revolusi berikutnya yang lebih dahsyat
sedang berlangsung saat ini. Revolusi ini diyakini akan mengubah serta
melahirkan teori dan praktik sosial baru yang mungkin belum pernah
terprediksikan sebelumnya. Revolusi yang memiliki dampak sangat luas dan dalam
pada peradaban manusia. Gelombang perubahan inilah yang disebut dengan revolusi
digital. Ditandai dengan kehadiran internet yang masif dan perlahan
menggantikan berbagai perangkat teknologi jadul (jaman dulu). Hampir semua
teknologi analog tinggal menjadi kenangan. Radio, televisi, koran, dan media
konvensional lain pun sudah di ambang sakratulmaut digulung Google dan Youtube.
Gilardi (2016), dalam penelitian terbarunya tentang digital democracy,
menjelaskan dengan gamblang tentang bagaimana teknologi digital ini juga
memengaruhi proses demokrasi itu sendiri. Mobilisasi politik, strategi
kampanye, polarisasi opini publik, hingga perangkat dan saluran tata kelola
pemerintahan pun mulai berubah. Tidak hanya di Barat, tetapi juga di belahan
dunia mana pun di saat teknologi digital mulai mendominasi. Tidak hanya pada
praktik politik dalam demokrasi kontemporer, revolusi teknologi digital ini
juga secara langsung telah memengaruhi bagaimana ilmu-ilmu sosial direproduksi
dan disebarluaskan. Big data, sains kompleksitas, crowd sourcing, mesin
pembelajaran baru, hingga kurikulum ilmu sosial di berbagai perguruan tinggi
rujukan dunia pun turut beradaptasi dengan revolusi digital ini. Demokrasi
digital ialah era baru dalam sejarah manusia sekaligus masa depan dunia itu
sendiri. Demokrasi rasa kota Kerasnya polarisasi politik dalam demokrasi
digital ini dapat kita rasakan dalam Pemilihan Presiden RI 2014 lalu. Demikian
juga dalam pilkada DKI yang sedang berlangsung saat ini. Kasus dugaan penistaan
Alquran, misalnya, bisa menjadi contoh bagaimana elite-elite politik yang
berkepentingan memobilisasi massa melalui kampanye di jejaring media sosial.
Mereka mampu menggerakkan solidaritas berbasis identitas keagamaan itu lintas
daerah bahkan lintas pulau untuk turun ke jalan menyuarakan aspirasi mereka.
MEDIA TRADISIONAL
A. Pengertian Media
Tradisional
Dongeng adalah salah
satu media tradisional yang pernah popular di Indonesia. Pada masa silam, kesempatan untuk
mendengarkan dongeng tersebut selalu ada, karena merupakan bagian dari
kebudayaan lisan di Indonesia. Bagi para ibu mendongeng merupakan cara
berkomunikasi dengan putra-putri mereka, terutama untuk menanamkan nilai-nilai
sosial, yang diturunkan dari generasi ke generasi.
Di berbagai
daerah di Indonesia, media komunikasi tradisional tampil dalam berbagai bentuk
dan sifat, sejalan dengan variasi kebudayaan yang ada di daerah-daerah itu.
Misalnya, tudung sipulung (duduk bersama), ma’bulo sibatang (kumpul bersama
dalam sebuah pondok bambu) di Sulawesi Selatan (Abdul Muis, 1984) dan
selapanan (peringatan pada hari ke-35 kelahiran) di Jawa Tengah, boleh
dikemukan sebagai beberapa contoh media tradisional di kedua daerah ini. Di
samping itu, boleh juga ditunjukkan sebuah instrumen tradisional seperti
kentongan yang masih banyak digunakan di Jawa. Instrumen ini dapat digunakan
untuk mengkomunikasikan pesan-pesan yang mengandung makna yang berbeda, seperti
adanya kematian, kecelakaan, kebakaran, pencurian dan sebagainya, kepada seluruh
warga masyarakat desa, jika ia dibunyikan dengan irama-irama tertentu.
Media tradisional
dikenal juga sebagai media rakyat. Dalam pengertian yang lebih sempit, media
ini sering juga disebut sebagai kesenian rakyat. Dalam hubungan ini Coseteng
dan Nemenzo (dalam Jahi, 1988) mendefinisikan media tradisional sebagai
bentuk-bentuk verbal, gerakan, lisan dan visual yang dikenal atau diakrabi
rakyat, diterima oleh mereka, dan diperdengarkan atau dipertunjukkan oleh
dan/atau untuk mereka dengan maksud menghibur, memaklumkan, menjelaskan,
mengajar, dan mendidik.
Sejalan dengan
definisi ini, maka media rakyat tampil dalam bentuk nyayian rakyat, tarian
rakyat, musik instrumental rakyat, drama rakyat, pidato rakyat- yaitu semua
kesenian rakyat apakah berupa produk sastra, visual ataupun pertunjukkan- yang
diteruskan dari generasi ke generasi (Clavel dalam Jahi, 1988).
B. Ragam Media
Tradisional
Nurudin (2004)
mengatakan bahwa membicarakan media tradisional tidak bisa dipisahkan dari seni
tradisional, yakni suatu bentuk kesenian yang digali dari cerita-cerita rakyat
dengan memakai media tradisional. Media tradisional sering disebut sebagai
bentuk folklor. Bentuk-bentuk folklor tersebut antara lain:
a. Cerita prosa
rakyat (mite, legenda, dongeng);
b. Ungkapan
rakyat (peribahasa, pemeo, pepatah);
c. Puisi rakyat;
d. Nyayian
rakyat;
e. Teater rakyat;
f. Gerak isyarat
(memicingkan mata tanda cinta);
g. Alat pengingat
(mengirim sisrih berarti meminang); dan
h. Alat
bunyi-bunyian (kentongan, gong, bedug dan lain-lain).
Ditinjau dari
aktualitasinya, ada seni tradisional seperti wayang purwa, wayang golek,
ludruk, kethoprak, dan sebagainya. Saat ini media tradisional telah mengalami
transformasi dengan media massa modern. Dengan kata lain, ia tidak lagi dimunculkan
secra apa adanya, melainkan sudah masuk ke media televisi (transformasi) dengan
segala penyesuaiannya. Misal acara seni tradisional wayang kulit yang disiarkan
oleh oleh suatu televisi swasta.
C. Fungsi Media
Tradisional
William Boscon
(dalam Nurudin, 2004) mengemukakan fungsi-fungsi pokok folklor sebagai media
tradisional adalah sebagai berikut:
- Sebagai sistem proyeksi. Folklor
menjadi proyeksi angan-angan atau impian rakyat jelata, atau sebagai alat
pemuasan impian (wish fulfilment) masyarakat yang termanifestasikan
dalam bentuk stereotipe dongeng. Contohnya adalah cerita
Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini hanya rekaan tentang angan-angan
seorang gadis desa yang jujur, lugu, menerima apa adanya meskipun
diperlakukan buruk oleh saudara dan ibu tirinya, namun pada akhirnya
berhasil menikah dengan seorang raja, cerita ini mendidik masyarakat bahwa
jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan mendapat imbalan
yang layak.
- Sebagai penguat adat. Cerita Nyi Roro
Kidul di daerah Yogyakarta dapat menguatkan adat (bahkan kekuasaan) raja
Mataram. Seseorang harus dihormati karena mempunyai kekuatan luar biasa
yang ditunjukkan dari kemapuannya memperistri ”makhluk halus”. Rakyat
tidak boleh menentang raja, sebaliknya rasa hormat rakyat pada pemimpinnya
harus dipelihara. Cerita ini masih diyakini masyarakat, terlihat ketika
masyarakat terlibat upacara labuhan (sesaji kepada makhluk halus) di
Pantai Parang Kusumo.
- Sebagai alat pendidik. Contohnya
adalah cerita Bawang Merah dan Bawang Putih, cerita ini mendidik
masyarakat bahwa jika orang itu jujur, baik pada orang lain dan sabar akan
mendapat imbalan yang layak.
- Sebagai alat paksaan dan pengendalian
sosial agar norma-norma masyarakat dipatuhi. Cerita ”katak yang congkak”
dapat dimaknai sebai alat pemaksa dan pengendalian sosial terhadap norma
dan nilai masyarakat. Cerita ini menyindir kepada orang yang banyak bicara
namun sedikit kerja.
Sifat kerakyatan
bentuk kesenian ini menunjukkan bahwa ia berakar pada kebudayaan rakyat yang
hidup di lingkungannya. Pertunjukkan-pertunjukkan semacam ini biasanya sangat
komunikatif, sehingga mudah dipahami oleh masyarakat pedesaan. Dalam
penyajiannya, pertunjukkan iniini biasanya diiringi oleh musik daerah setempat
(Direktorat Penerangan Rakyat, dalam Jahi, 1988).
Ranganath (1976),
menuturkan bahwa media tradisional itu akrab dengan massa khalayak, kaya akan
variasi, dengan segera tersedia, dan biayanya rendah. Ia disenangi baik pria
ataupun wanita dari berbagai kelompok umur. Secara tradisional media ini
dikenal sebagai pembawa tema. Disamping itu, ia memiliki potensi yang besar
bagi komunikasi persuasif, komunikasi tatap muka, dan umpan balik yang segera.
Ranganath juga memepercayai bahwa media tradisional dapat membawa
pesan-pesan modern.
Eapen (dalam
Jahi, 1988) menyatakan bahwa media ini secara komparatif murah. Ia tidak perlu
diimpor, karena milik komunitas. Di samping itu, media ini tidak akan
menimbulkan ancaman kolonialisme kebudayaan dan dominasi ideologi asing.
Terlebih lagi, kredibilitas lebih besar karana ia mempertunjukkan kebolehan
orang-orang setempat dan membawa pesan-pesan lokal, yang tidak berasal dari
pemerintah pusat. Media rakyat ini bersifat egaliter, sehingga dapat
menyalurkan pesan-pesan kerakyatan dengan lebih baik daripada surat kabar yang
bersifat elit, film, radio, dan televisi yang ada sekarang ini.
Sifat-sifat umum
media tradisional ini, antara lain mudah diterima, relevan dengan budaya yang
ada, menghibur, menggunakan bahasa lokal, memiliki unsur legitimasi, fleksibel,
memiliki kemampuan untuk mengulangi pesan yang dibawanya, komunikasi dua arah,
dan sebagainya. Disssanayake (dalam Jahi,1988) menambahkan bahwa media
tradisional menggunakan ungkapan-ungkapan dan simbol-simbol yang mudah dipahami
oleh rakyat, dan mencapai sebagaian dari populasi yang berada di luar jangkauan
pengaruh media massa, dan yang menuntut partisipasi aktif dalam proses
komunikasi.
D.
Keberadaan Media Tradisional
Pada masa silam,
media tradisional pernah menjadi perangkat komunikasi sosial yang penting.
Kinipenampilannya dalam masyarakat telah surut. Di Filipina, Coseteng dan
Nemenzo (dalam Jahi, 1988) melaporkan bahwa surutnya penampilan media ini
antara lain karena:
1. Diperkenalkannya
media massa dan media hiburan modern seperti media cetak, bioskop, radio, dan
televisi.
2. Penggunaan
bahasa Inggris di sekolah-sekolah, yang mengakibatkan berkurangnya penggunaan
dan penguasaan bahasa pribumi, khususnya Tagalog.
3. Semakin
berkurangnya jumlah orang-orang dari generasi terdahulu yang menaruh minat pada
pengembangan media tradisional ini, dan
4. Berubahnya
selera generasi muda.
Di Indonesia,
situasinya kurang lebih sama. Misalnya, beberapa perkumpulan sandiwara rakyat
yang masih hidup di Jawa Tengah dan Jawa Timur, yang biasanya mengadakan
pertunjukkan keliling di desa-desa, ternyata kurang mendapat penonton, setelah
televisi masuk ke desa. Hal ini, mencerminkan bahwa persaingan media
tradisional dan media modern menjadi semakin tidak berimbang, terlebih lagi setelah
masyarakat desa mulai mengenal media hiburan modern seperti kaset video.
Pertunjukkan
rakyat yang kebanyakan menggunakan bahasa daerah mulai ditinggalkan orang,
terutama setelah banyak warga masyarakat menguasai bahasa Indonesia. Di pihak
lain, jumlah para seniman yang menciptakan dan memerankan
pertunjukkan-pertunjukkan tradisional itupun semakin berkurang. Generasi baru nampaknya kurang berminat
untuk melibatkan diri dalam pengembangan pertunjukkan tradisional yang semakin
kurang mendapat sambutan khalayak ini.
Surutnya media
tradisional ini dicerminkan pula oleh surutnya perhatian para peneliti
komunikasi pada media tersebut. Schramm dan Robert (dalam Ragnarath, 1976)
melaporkan bahwa antara tahun 1954 dan 1970 lebih banyak hasil penelitian
komunikasi yang diterbitkan dari masa sebelumnya. Akan tetapi dalam
laporan-laporan penelitian itu tidak terdapat media tradisional. Berkurangnya
minat masyarakat pada media tradisional ini ada hubungannya dengan pola
pembangunan yang dianut oleh negara dunia ketiga pada waktu itu. Ideologi
modernisasi yang populer saat itu, mendorong negara-negara tersebut untuk
mengikuti juga pola komunikasi yang dianjurkan. Dalam periode itu kita
menyaksikan bahwa tradisi lisan mulai digantikan oleh media yang berdasarkan
teknologi. Sebagai akibatnya, komunikasi menjadi linear dan satu arah.
Untuk mempercepat
laju pembangunan, banyak negara yang sedang berkembang di dunia ketiga
menginvestasikan dana secara besdar-besaran pada pembangunan jaringan televisi,
dan akhir-akhirnya pada komunikasi satelit (Wang dan Dissanayake, dalam Jahi,
1988). Mereka lupa bahwa investasi besar pada teknologi komunikasi itu, jika
tidak diiringi oleh investasi yang cukup pada perangkat lunaknya, akan
menimbulkan masalah serius di kemudian hari. Kekuarangan ini menjadi kenyataan
tidak lama setelah mereka mulai mengoperasikan perangkat keras media besar itu.
Mereka segera mengalami kekuarangan program yang sesuai dengan dengan situasi
dan kebutuhan domestik, dan juga mengalami kesulitan besar dalam pembuatan
program-program lokal. Kesulitan ini timbul karena terbatasnya sumber daya manusiawi
yang terlatih untuk membuat program-program lokal yang kualitasnya dapat
diterima masyarakat dan besarnya biaya produksi.
Situasi ini
mengakibatkan negara-negara dunia ketiga itu mengambil jalan pintas dengan
jalan mengimpor banyak program berita maupun hiburan dari negara-negara maju.
Keluhan yang timbul kemudian ialah bahwa isi program-program tersebut tidak
sesuai dengan perkembangan dan kebutuhan domestik. Kecenderungan ini tentunya
sangat berbahaya, karena dapat mengikis kebudayaan asli dan merangsang
tumbuhnya konsumerisme yang kurang sesuai dengan perkembang di negeri itu.
Perhatian para
peneliti komunikasi pada media tradisional, bangkit kembali setelah menyaksikan
kegagalan media massa, dan kegagalan pembangunan di banyak negara dunia ketiga
dalam dasawarsa 1960. media tradisonal secara pasti dan mantap mulai dikaji
kembali pada dasawarsa 1960 di negara-negara sedang berkembang di Asia dan
Afrika. Kemungkinan untuk memanfaatkan media ini secara resmi mulai ditelusuri.
UNESCO pada tahun 1972 menyarankan penggunaan media tradisional secara
terorganisasikan dan sistematik dapat menumbuhkan motivasi untuk kerja bersama
masyarakat. Yang tujuan utamanya tidak hanya bersifat pengembangan sosial dan
ekonomi, tetapi juga kultural (Ranganath, 1976)
Kemudian
Ranganath (1976) menunjukkan peristiwa-peristiwa internasional yang menaruh
perhatian pada pengembangan dan pendayagunaan media tradisional bagi
pembangunan. Salah satu di antaranya ialah seminar yang dilaksanakan oleh East
West Communication Institute di Hawai, yang menegaskan kembali bahwa strtegi
komunikasi modern di negara-negara yang sedang berkembang akan mengalami
kerugian besar, jika tidak didukung oleh media tradisional.
E. Peran Media
Tradisional dalam Sistem Komunikasi
Media tradisional
mempunyai nilai yang tinggi dalam sitem komunikasi karena memiliki posisi
khusus dalam sistem suatu budaya. Kespesifikan tanda-tanda informasi yang
dilontarkan dalam pertunjukkan-pertunjukkan tradisional itu maupun konteks
kejadian, mengakibatkan orang-orang berasal dari sistem budaya lain sulit
menyadari, memahami, dan menghayati ekspresi kesenian yang bersifat verbal,
material, maupun musik yang ditampilkan (Compton, 1984).
Kesulitan
tersebut berasal dari kerumitan untuk memahami tanda-tanda nonverbal yang
ditampilkan, yang umumnya tidak kita sadari. Demikian juga dengan tidak
memadainya latar belakang kita untuk memahami simbolisme religi dan mitologi
yang hidup disuatu daerah, tempat pertunjukan tradisional itu terjadi.
Sebagian dari media
rakyat ini, meskipun bersifat hiburan dapat juga membawa pesan-pesan
pembangunan. Hal ini dapat terjadi karena media tersebut juga menjalankan
fungsi pendidikan pada khalayaknya. Oleh karena itu, ia dapat digunakan untuk
menyampaikan pengetahuan kepada khalayak(warga masyarakat). Ia dapat juga
menanamkan dan mengukuhkan nilai-nilai budaya, norma sosial, dan falsafah
sosial (Budidhisantosa, dalam Amri Jahi 1988).
Walaupun
demikian, bertolak belakang dengan keoptimisan ini, para ahli memperingatkan
bahwa tidak seluruh media tradisional cukup fleksibel untuk digunakan bagi
maksud-maksud pembangunan. Karena memadukan yang lama dan yang baru tidak
selamanya dapat dilakukan dengan baik. Kadang-kadang hal semacam ini malah
merusak media itu, sehingga kita harus waspada (Dissanayake,
1977). Masalah-masalah dihadapi dalam penggunaan seni pertunjukkan
tradisional untuk maksud pembangunan, sebanrnya ialah bagaimana menjaga agar
media tersebut tidak mengalami kerusakan. Oleh karena pertunjukkan tradisional
ini memadukan berbagai unsur kesenian yang bernilai tinggi, yang menuntut
kecanggihan maka dukungan seni sangat penting dalam medesain pesan-pesan
pembangunan yang akan disampaikan (Siswoyo, dalam Amri Jahi 1988).
Meskipun banyak
kesulitan yang dihadapi dalam menyesuaikan penggunaan media tradisional bagi
kepentingan pembangunan, riset menunjukkan bahwa hal itu masih mungkin
dilakukan. Pesan-pesan pembangunan dapat disisipkan pada
pertunjukkan-pertunjukkan yang mengandung percakapan, baik yang bersifat
monolog maupun dialog, dan yang tidak secara kaku terikat pada alur cerita.
Wayang misalnya, salah satu pertunjukkan tradisional yang terdapat di jawa,
Bali, dan daerah-daerah lain di Indonesia, yang dapat dimanfaatkan sebagai
media penerangan pembangunan. Pertunjukkan biasanya menampilkan episode-episode
cerita kepahlawanan Hindu seperti Ramayana dan Mahabarata. Pertunjukkan wayang
biasanya disampaikan dalam bahasa daera misalnya bahasa jawa, Sunda, atau Bali
yang diiringi nyanyian dan musik yang spesifik. Bagi orang-orang tua yang masih
tradisional, wayang lebih daripada sekedar hiburan. Mereka menganggap wayang
sebagai perwujudan moral, sikap, dan kehidupan mistik yang sakral. Pertunjukkan
tersebut selalu menekankan perjuangan yang baik melawan yang buruk. Biasanya yang
baik setelah mkelalui perjuangabn yang panjang dan melelahkan akan mendapat
kemenangan. Disamping itu moralitas wayang mengajarkan juga cara memperoleh
pengetahuan, kedamaian pikiran, dan sikap positif yang diperlukan untuk
mencapai kesempurnaan hidup.
Episode-episode cerita
wayang cukup ketat. Namun,
pesan-pesan pembangunan masih dapat disisipkan dalam dialog-dialog yang
dilakukan. Banyak episode wayang yang dapat dipilih dan dipertunjukkan dalam
kesempatan-kesempatan tertentu. Misalnya, untuk menumbuhkan semangat rakyat
dalam perang kemerdekaan, mengisi kemerdekaan, integrasi bangsa, dan
sebagainya. Pada zaman revolusi kemerdekaan Indonesia (1945-1949)
Departemen Penerangan menciptakan wayang suluh untuk melancarkan kampanye
perjuangan. Mereka menampilkan tokoh-tokoh kontemporer seperti petani, kepala
desa, pejuang, serdadu Belanda, Presiden Sukarno, dan sebagainya. Wayang suluh
ini, pada dasarnya, menceritakan perjuangan para pemimpin dan rakyat Indonesia
menuju Kemerdekaan.
Pelaksanaan
demokrasi di media sosial dalam pemilu 2019
Pemilihan presiden
Indonesia 2019 berada dalam paradoks janggal. Di satu sisi, platform kebijakan
kedua kandidat presiden nyaris tak menunjukkan perbedaan yang signifikan.
Alih-alih mengkritik Presiden Joko Widodo, kampanye kandidat oposisi Prabowo
Subianto relatif pasif dan malu-malu. Sebagian besar orang Indonesia menganggap
debat pilpres di televisi membosankan. Wartawan lokal dan asing pun mengklaim
tak ada hal menarik selama kampanye berlangsung. Kandidat presiden dan wakil presiden
tidak menawarkan perdebatan yang jelas terkait arah masa depan negara ini.
Seorang dosen mengatakan wacana politik saat ini "buruk untuk Indonesia
dan tidak dapat dikendalikan", ketika mahasiswa "tidak boleh sepakat
untuk tidak bersepakat”. Dalam sesi kuliah saya, seorang mahasiswa meminta
saran tentang bagaimana Indonesia bisa “damai” di tengah situasi politik yang
keruh. Namun, apakah yang sebenarnya mendorong perbedaan kontras antara
kampanye politik yang relatif menjemukan dan perasaan banyak orang yang resah
terkait itu? Salah satu cara untuk menjawab pertanyaan ini adalah mengamati
bagaimana kehidupan online mengubah realitas offline. Barangkali Indonesia
tidak mengalami kampanye politik yang memecah belah, atau polarisasi, melainkan
diskursus media sosial membuat masyarakat Indonesia merasakan potensi
polarisasi lebih besar dibandingkan yang sebenarnya dan politikus terus-terusan
mengobarkan persepsi itu yang bisa saja menyebabkan terpecah belahnya
perdamaian. Bercermin pada beberapa kasus luar biasa, para pakar di Indonesia
telah memperingatkan bahwa media sosial mudah memicu konflik karena tingkat
literasi yang rendah. Menurut akademisi Indonesia Adi Prayitno, "Banyak
orang Indonesia masih irasional dan cenderung emosional ketika berhadapan dengan
pandangan politik yang berbeda," yang lantas membuat mereka berpikir
politik adalah "jalan menuju surga atau pertarungan antara yang baik dan
yang jahat”. Lihat saja percakapan media sosial di Indonesia sehari-hari saat
pendukung Jokowi dipanggil “cebong" dan pendukung Prabowo dijuluki
"kampret". Polarisasi media sosial di Indonesia akhirnya sering
dibandingkan dengan apa yang terjadi di Amerika Serikat. Orang asing biasanya
langsung menilai kebanyakan orang Indonesia tak menyadari apa yang terjadi di
dunia internasional. Namun, pemilu Amerika adalah pengecualian, setidaknya di
kalangan elite. Dalam pidatonya baru-baru ini, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY)
mengatakan perpecahan politik disebabkan oleh maraknya berita bohong dan hoax
di media sosial. "Jika situasi ini berlanjut," katanya, "itu
akan mengakhiri sistem multipartai dan akan membawa negara ini ke sistem dua
partai seperti di Amerika Serikat." AHY menambahkan sistem dua partai
tidak cocok dengan latar belakang historis dan kemajemukan bangsa Indonesia.
Wakil Kepala Kepolisian Nasional Ari Dono Sukmanto mengamini pendapat AHY,
“[Pengaruh yang salah dari informasi yang salah] terjadi di Pilpres [2016] di
Amerika Serikat. Mungkin ini juga bisa terjadi pada kita”. Dalam wawancara
pribadi, salah seorang juru kampanye di kubu Jokowi bercerita kepada saya
tentang bagaimana pemilihan AS memberikan pelajaran penting untuk merespons
“kampanye “hitam”: “Michele Obama mengatakan, „When they go low, we go high‟
(ketika kubu pembuat hoax memakai taktik rendahan, kita harus bertahan dengan
prinsip-prinsip moral kita). Nyatanya, cara itu tak berhasil. Trump menang.
Jadi, dalam kasus Indonesia, 'When they go low, we go lower." Polarisasi
Apa? Terlepas dari semua kekhawatiran tentang perpecahan, disinformasi, dan berita
bohong, temuan survei belum berubah. Jokowi masih memimpin dengan elektabilitas
sekitar 57 persen, melampaui elektabilitas Prabowo pada angka 32 persen.
Artinya, apa pun yang telah diproduksi untuk meramaikan dunia maya atau media
sosial, sejauh ini tidak mengubah temuan survei secara signifikan. Alih-alih
menciptakan kondisi "darurat hoax", sebagian besar orang yang sibuk
memerangi satu sama lain adalah pasukan siber dari kedua kubu. Sementara itu,
anak muda Indonesia semakin menghindari diskursus politik yang kian meruncing,
terutama di Twitter dan Facebook, sehingga beralih ke platform apolitis.
Sumber: https://mediaindonesia.com/opini/73975/demokrasi-digital
http://adiprakosa.blogspot.com/2008/01/media-tradisional.html
Nama : Khonisa Eka Ariananda
Kelas : 2IA07
NPM : 56419909
Tidak ada komentar:
Posting Komentar